Terapi penyembuhan kalbu melalui Ilmu Pengetahuan [1]

Penyakit kalbu itu banyak jumlahnya, antara lain riya’, arogansi atau sombong, bangga, iri hati, bermegah-megahan, pongah, cinta jabatan, dan gila kehormatan. Penyakit-penyakit ini merupakan akumulasi dari penyakit syubhat dan syahwat. Pada kedua jenis penyakit ini pasti tersimpan fantasi serta keinginan buruk yg bermuara dari kesukaan membayangkan kebesaran diri dan keutamaannya yg ditingkahi oleh keinginannya agar dihargai dan dihormati oleh orang lain. Jadi, timbulnya penyakit-penyakit tsb ternyata tdk lepas dari penyakit syahwat, syubhat, atau akumulasi dari keduanya. Namun, apapun bentuk penyakit tadi, semuanya timbul dari kebodohan diri. Karena itu, obatnya berarti ilmu pengetahuan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis diceritakan tentang seorang sahabat yg terluka. Ada yg menyarankan agar ia dimandikan. Tetapi, sahabat yg terluka itu malahan meninggal dunia. Maka Rasulullah Saw bersabda, “Mereka telah membunuhnya. Mudah-mudahan Allah membunuh mereka. Ketahuilah, hendaklah mereka bertanya jika tdk mengetahui. Sesungguhnya obat ketidakcakapan berbuat (ketololan) adalah bertanya.(H.R. Abu Daud). Rasulullah mengkategorikan ketidakmampuan, yakni ketidakmampuan kalbu menyerap ilmu serta ketidakmampuan lidah dari bertutur tentangnya adalah penyakit, dan obatnya adalah bertanya kpd orang yg tahu. Penyakit kalbu memang lebih berbahaya dari penyakit fisik. Penyakit fisik, klimaksnya, paling-paling cuma mengantarkan si penderita kpd kematian; sedangkan penyakit kalbu akan membawanya kpd kesengsaraan abadi, dan obatnya adalah ilmu pengetahuan. Oleh sebab itulah, Allah Swt menamakan kitab suci-Nya, yakni Al-Qur’an, sbg obat penawar bagi penyakit yg bersemayam di dlm dada. Allah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kpdmu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yg berada) di dlm dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yg beriman”.(Yunus [10]: 57). Kebutuhan kalbu kpd ilmu tdk sama dgn kebutuhan bernafas dlm udara; bahkan lebih besar lagi. Salah seorang arif berkata: “Bukankah orang sakit jika sudah tdk bs makan, minum, dan berobat lagi, ia akan mati?” Orang-orang menjawab, “Benar”. Ia berkata lagi, “Demikianlah keadaan kalbu bila sudah tdk bs lagi menerima ilmu dan hikmah selama tiga hari; ia akan mati”. Ia benar, karena ilmu adalah sumber makanan dan minuman kalbu, sekaligus obatnya. Kehidupannya bergantung pd ilmu itu. Maka jika ia kehilangan ilmu, tentu ia akan mati. Dengan kata lain, ilmu bagi kalbu bagaikan air bagi ikan. Apabila airnya kering, tentu ikannya akan mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: