Tau Battu ri Bone Lassuka ri Gowa

Karaeng Matoaya
Nama pribadinya semoga saya tidak terkutuk adalah, I-Mallingkaang. Nama kerajaan-Nya (Paddaenganna) adalah Daeng Mannyonri. Nama (Pakkaraenganna) sebelum Ia menjadi penguasa adalah Karaeng Katangka. Disebut juga Sultan Abdullah Awawul Islam. Nama-Nya setelah meninggal disebut Tu-Mammenanga-ri-Agamana (‘Dia yang meninggal dalam agamanya “). Di gelar juga Karaeng Kanjilo, Karaeng Segeri, Karaeng Barombong, Karaeng Data dan Karaeng Allu. Namun diantara nama-Nya itu Beliau lebih populer dengan nama Karaeng Matoaya (Raja Tua) (1570-1636). Raja Tallo sekaligus merupakan Perdana Menteri Gowa.

Karaeng Matoaya adalah anak dari Raja Tallo ke-IV, I Mappatakangtana Daeng Paduduq (Tumenanga ri Makkayoang) dari istrinya yang bernama, semoga saya tidak terkutuk adalah I Sapi. Naik tahta mengantikan Raja Tallo ke VI yang juga merupakan Raja Gowa ke- XIII yang bernama I-Tepukaraeng Daeng Parabung Karaeng Bontolangkasa “Tunipasulu” Tu Menanga ri Butung.

Digelar Sultan Abdullah Awawul Islam karena Dialah orang pertama yang mengucapkan kalimat syahadat di tanah Sulawesi. Ia masuk Islam pada malam jumat tanggal 9 Jumadil Awal 1014 Hijriah (22 September 1605). Yang mengislamkannya ialah Khatib Tunggal Abdul Makmur yang berasal dari kota tengah (Sumatera Barat) yang juga di gelar Datok ri Bandang.

Karaeng Matoaya dikenal sebagai seorang Muslim yang taat dan berpengetahuan, sebagaimana digambarkan dalam kutipan berikut : Dikatakan bahwa Raja ini adalah seorang yang sangat alim berpengetahuan (panrita), seorang pemberani, seorang yang mempunyai wawasan yang sangat mendalam dan bijaksana; seorang yang terampil dan mampu menjadi penyelenggara (penentu, pengambil kebijakan); tangkas dalam pekerjaan baik pekerjaan laki-laki maupun kerajinan perempuan; ia adalah seorang yang jujur (tegak), baik hati, dan ramah. Dia mampu membaca dan memahami apa yang ia baca; Dia mahir membaca dan menulis tulisan Arab, banyak kitab yang Dia baca, dari waktu Dia memeluk agama Islam sampai kematiannya ia tidak pernah meninggalkan sholat kecuali sekali yakni ketika ia menderita sakit (dengan kaki yang bengkak) tatkala orang Inggris mengobatinya dengan memberinya minuman keras, 18 hari lamanya ia tidak shalat. Dia senantiasa mengerjakan sembahyang sunat, seperti shalat sunat Rawatib, Witir, Adduha, Tasbih dan Tahajjud. Berkata I-Loqmoq ri Paotere [salah satu jandanya] :”Paling sedikit sembahyang malamnya dua rakaat dan paling banyak sepuluh rakaat setiap malam”. Dia melakukan sembahyang sunat tasbih pada setiap malam Jumat, Dan setiap malam pada bulan Ramadhan. Dia senantiasa membayar pajak (zakat) emas, zakat kerbau (binatang) juga zakat beras pada setiap tahunnya. Dia sering memberi izin untuk bekerja, dan juga senantiasa berdoa. Berkata Karaenga ri Ujung Pandang :”Dia banyak belajar Morfologi arab dari Khatib Intang di Koja Manawara’.

Karaeng inilah yang menjadikan (ampasallangi) orang Makassar di seluruh tanah Makassar menganut agama Islam. Juga orang Bugis di seluruh tanah Bugis, kecuali Luwu. Dikatakan bahwa hanya dua tahun setelah Karaeng Matoaya mengucapkan Syahadat, maka seluruh rakyat Gowa dan Tallo pun sudah selesai di Islamkan, yang ditandai dengan diadakannya sembahyang Jumat pertama di Tallo pada tanggal 9 November 1607 (19 Rajab 1016). Dan dalam jangka waktu 4 tahun, seluruh tanah di Sulawesi Selatan pun telah di islamkan.

Meskipun Karaeng Matoaya adalah orang kedua dibawah Raja Gowa. Namun Dia adalah merupakan pemimpin utama kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) yang mengendalikan seluruh kebijakan didalamnya, terutama pada tahun-tahun awal ketika Raja Gowa, yang juga keponakannya itu masih sangat muda (masih belia).

Karaeng Matoaya tercatat menikah sebanyak dua (2) kali. Satu istrinya bernama Karaeng Manaungi. Satu lagi istrinya bernama Karaeng ri Naung. Dari hasil perkawinannya tersebut dikaruniai enam (6) orang anak ; 1) Karaeng Patinga Tampatsina. 2) I-Manginyarang Karaeng Kanjilo Daeng Makiyo Sultan Abdul Jafar Muzaffar. 3) I-Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang [Tumenanga ri Bontobiraeng]. 4) La Mallawakkang Daeng Sisila Karaeng Popo Abdul Kadir. 5) Tumataya ri Bantang Daeng Mangemba. 6) Daeng Mangeppe.

Setelah Karaeng Matoaya wafat, Dia digantikan oleh anaknya yang bernama I-Manginyarang Karaeng Kanjilo Daeng Makkiyo Sultan Abdul Jafar Muzaffar sebagai Raja Tallo VIII, dari istrinya yang bernama Karaeng ri Naung.**

Wassalam, Semoga manfaat…

Dari Berbagai Sumber.
Posted by Adi Lagaruda at 22:51
Reactions:
2 comments Links to this post Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Labels: Tokoh
Rabu, 27 April 2011
Kitab La Galigo Tidaklah Lebih Tua dari Aksara (Huruf) Lontara
Kitab dan Aksara ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Kitab La Galigo atau biasa juga disebut Kitab Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis Makassar di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi kuno, ditulis dalam huruf lontara kuno. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari. Epik ini panjangnya melebihi Mahabharata dari India, bahkan ada yang menduga bahwa epik ini lebih tua dari Mahabarata yang dari India tersebut.

Aksara Lontara adalah aksara yang dipakai dalam Kitab Galigo, dan sebagaimana dikatakan diatas, bahwa Kitab tersebut ditulis dalam aksara lontara kuno, jadi bukan ditulis dalam lontara yang ada sekarang (lontara belah ketupat). Berikut aksara lontara kuno yang dipakai dalam kitab tersebut (sebelah kiri), sebagaimana yang dikemukakan oleh Matthes sang penulis ulang, dikutif oleh Holle (1882).

Adalah Daeng Pamatte yang dikenal sebagai pencipta aksara lontara ini, sebagaimana disebutkan dalam Lontara Gowa (catatan harian kerajaan), berikut kutipannya :

(…iapa anne karaeng uru apparek rapang bicara, timu-timu ri bunduka. Sabannarakna minne Karaenga nikana Daeng Pamatte. la sabannarak, la Tumailalang, iatommi Daeng Pamatte ampareki lontarak Mangkasarak).

(…Baru Raja inilah yang pertama membuat undang-undang dan peraturan perang. Syahbandar raja ini bernama Daeng Pamatte, dia syahbandar dan dia juga Tumailalang, Daeng Pamatte inilah yang membuat lontarak Makassar).

Lahirnya aksara lontara, bermula karena ia (Daeng Pamatte) diperintah oleh Karaeng Tumapa’risik Kallonna untuk mencipta hurup Makassar. Hal ini mungkin didasari kebutuhan dan kesadaran dari Baginda waktu itu, agar pemerintah kerajaan dapat berkomunikasi secara tulis-menulis, dan agar peristiwa-peristiwa kerajaan dapat dicatat secara tertulis. Aksara lontara sendiri sudah mengalami perkembangan dan perubahan baik jumlah maupun bentuknya sejak diciptakannya.

Lantas apa yang membuat orang-orang beranggapan/ berpendapat bahwa Kitab Galigo lebih tua dari Aksara Lontara itu sendiri…? Jawabannya adalah karena Kitab Galigo tersebut bercerita mengenai awal dimulainya “penciptaan” dunia serta bercerita mengenai “manusia pertama” sebagai penghuni bumi, juga tidak lepas dari isinya yang penuh dengan mitos. Kalau demikian apa bedanya dengan Al-Quran sebagai kitab suci serta kitab-kitab suci lainnya yang ada sekarang ini, yang juga didalamnya banyak bercerita mengenai awal penciptaan dunia serta penciptaan manusia pertama, yang didalamnya juga banyak mengandung makna yang tersembunyi. Dapatkah kita katakan bahwa Kitab Suci tersebut lebih dahulu ada daripada tulisan/ aksara yang dipakai dalam kitab tersebut…? Jawabannya adalah TIDAK…..oleh karena tidaklah mungkin suatu kitab bisa tercipta tanpa adanya aksara/ tulisan lebih dahulu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kitab Galigo tidaklah lebih tua dari Aksara Lontara. Adapun tua (lebih dahulu ada) yang dimaksud adalah ceritanya dan bukanlah kitabnya, oleh karena suatu cerita dapat hidup dan berkembang sepanjang keberadaan manusia itu sendiri.** Wassalam.
Posted by Adi Lagaruda at 22:25
Reactions:
0 comments Links to this post Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Labels: Sosbud
Senin, 25 April 2011
Macan Lambaraqna Gowa : I Mappatakangtana Daeng Paduduq Tumenanga ri Makkayoang
Macan Lambaraqna Gowa (Harimau Liar dari Goa). Adalah sebuah gelar, sama dengan gelar-gelar lainnya seperti Macan Keboka ri Tallo, Macan Leqlenga ri Katangka, Macan Ejayya ri Sanrobone, Macan Beru Bakkaka ri Luwu.

Adalah, semoga saya tidak terkutuk, nama pribadi-Nya I Mappatakangtana. Nama kerajaan-Nya [Paddaenganna] adalah Daeng Paduduq (Tumenanga ri Makkayoang) yang digelar sebagai Macan Lambaraqna Gowa. Beliau adalah Somba [Raja Tallo IV, tak lain adalah Ayah dari I Mallingkaang Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Karaeng Matowaya Sultan Abdu’llah Awwal al-Islam [Tu-Mammenanga-ri-Agamana]. Ayahnya adalah Karaeng Tunipasuru (Raja Tallo III), Nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk, semoga saya tidak hancur, adalah I Mangayoang Berang. Nama Pakkaraenganna sebelum dia menjadi penguasa adalah Karaeng Pasi. Ibundanya adalah Tumamalianga ri Tallo, nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk, semoga saya tidak hancur adalah I Passile’ba, putri Karaeng Loe ri Maros.

Tumenanga ri Makkayoang, dikatakan bahwa selain menjabat sebagai Somba [Raja] Tallo, Dia juga mendampingi Somba [Raja] Gowa menjalankan pemerintahannya, yakni sebagai Mangkubumi [Tumabbicara Butta Gowa]. Dialah yang mendampingi Somba Gowa ke-X [Karaeng Tunipallangga Ulaweng] dalam usahanya untuk melanjutkan pembangunan dan perluasan wilayah kekuasaan Gowa,hingga masa pemerintahan Somba [Raja] Gowa ke-12 [I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa].

Dialah yang membujuk hingga akhirnya berhasil membawa pulang Karaeng Tunipallangga Ulaweng dari Papolong ke Gowa ketika sakit yang di deritanya bertambah parah sewaktu keduanya memimpin peperangan melawan Bone. Dia pula yang mewakili Gowa bersama I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa [putera mahkota pada saat itu] dalam perundingan [perjanjian perbatasan] yang di sebut Ulukanaya ri Caleppa [Kesepakatan di Caleppa], antara Gowa dan Bone.

Setelah Tumenanga ri Makkayoang wafat, maka yang menjadi Somba [Raja] Tallo adalah I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bonto Langkasa merangkap sebagai Somba [Raja] Gowa.** Wassalam, Semoga manfaat…

Referensi : Dari berbagai sumber.
Posted by Adi Lagaruda at 18:19
Reactions:
0 comments Links to this post Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Labels: Tokoh
Sejarah Maros : Karaeng Patanna Langkana
Karaeng Patanna Langkana adalah anak sulung dari tiga bersaudara dari Karaeng Loe ri Maros. Naik tahta mengantikan ayahandanya sebagai penguasa [karaeng] Maros IV (1538-1572 ).

Tiga bersaudara tersebut adalah, pertama Karaeng Patanna Langkana. Nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk adalah, I Mappasomba. Nama kerajaan-Nya [Paddaenganna] adalah Daeng Nguraga. Yang kedua adalah Karaeng Barasa. Berikutnya yang ketiga adalah Tumamalianga ri Tallo. Nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk, semoga saya tidak hancur adalah I Passileqba Tumamalianga ri Talloq. Dia menikah dengan Tunipasuruq yang berkuasa di Tallo, Nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk, semoga saya tidak hancur, adalah Mangayoang Berang. Nama Pakkaraenganna sebelum dia menjadi penguasa adalah Karaeng Pasi. Tumamalianga ri Tallo inilah yang melahirkan Tumenanga ri Tallo, macang lambaraqna Gowa (harimau liar dari Gowa). Nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk, I Mappatakangtana Nama kerajaan-Nya [Paddaenganna] adalah Daeng Paduduq. Setelah Karaeng Loe ri Maros meninggal, maka Karaeng Patanna Langkana menjadi penguasa di Maros. Dia disebut “Patanna Langkana” karena dia membangun sebuah istana dengan dua belas bagian pada pilar.

Karaeng Patanna Langkana berperang dengan Gowa, membantu Tallo [pada masa Karaeng Tumapakrisi Kallonna]. Pada waktu Tunipalangga Ulaweng menjadi Somba di Gowa. Nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk, semoga saya tidak hancur, I Moriwogau. Nama kerajaan-Nya [Paddaenganna] adalah Daeng Bonto. Nama Pakkaraenganna sebelum ia menjadi penguasa adalah Karaeng Lakiung. Patanna Langkana membantu Somba Gowa menaklukkan Lengkese dan rakyat Polombangkeng. Ialah [Tunipalangga Ulaweng] yang pertama berperang melawan orang Bugis di Bampangang. Mengejar Suppa dan Lamuru sampai di Walanaya. Mereka menaklukkan penguasa wanita (datu bainea) bernama I Daengku dan pengikut-nya. Mereka menaklukkan Cenrana, Salomekko, Cina, Kacu, Patuku, Kalubimbing, Bulo-Bulo, Kajang, dan Lamatti. [Patanna Langkana] membantu Somba Gowa menaklukkan Samanggi, Cenrana, dan Bengo dan membuatnya menjadi pengikut Gowa (Palili Gowa). Dari Saumata dan Camba ganti rugi perang [bea perang] diambil, sebanyak lima Kati dan lima tahil emas. Karaeng Patanna Langkana ikut [menjadi pengikut Gowa] setelah [Tallo] ditaklukkan oleh Gowa. Itu pulalah yang menjadikan Tallo dan Gowa menjadi satu (Rua Karaeng na Se’re Ata).

Karaeng Patanna Langkana memiliki anak, Tunikakasang. Setelah meninggal Karaeng Patanna Langkana, kemudian disebut Tumenanga ri Buluqduaya. Selanjutnya sebagai pewaris takhta adalah Tunikakasang, sebagai penguasa [karaeng] Maros V. Nama pribadi-Nya, semoga saya tidak terkutuk, I Yunyi, Nama kerajaan-Nya [Paddaenganna] adalah Daeng Mangemba.** Wassalam, Semoga manfaat…

Sumber : Lontara Maros

Posted by Adi Lagaruda at 11:34
Reactions:
0 comments Links to this post Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Labels: Tokoh
Minggu, 24 April 2011
Karaeng Tumapakrisi Kallonna
Karaeng Tumapakrisi Kallonna adalah anak dari Raja Gowa ke-7, Batara Gowa, dan ibunya bernama I Rejasi. Naik tahta sebagai Raja Gowa ke-9 (1511-1546) menggantikan saudaranya Raja Gowa ke-8, I Pakeretau Tunijallok ri Pasukki’ yang lain ibu [anak dari Karaenga Makeboka].

Dialah yang menjadi peletak dasar pertama penataan pemerintahan Kerajaan Gowa secara modern, dan kemudian mengantar Gowa sebagai kerajaan maritim yang terkenal di wilayah nusantara bahkan sampai ke luar negeri.

Karaeng Tumapakrisi Kallonna tercatat menikah sebanyak 2 [dua] kali. Dialah yang menikah dengan anak Tunilabu ri Suriwa [karaeng]. Mereka memiliki anak : Tunipalangga; Karaeng ri Bone (nama pribadi dari Karaeng ri Bone, semoga saya tidak terkutuk, I Tapacinna); Tunibatta; Karaeng ri Somba Opu, nama pribadinya semoga saya tidak terkutuk, bernama I Sapi. Juga dengan seorang wanita asal Polombangkeng. Seorang anak dari Karaeng Jamarang. Dikaruniai anak : Karaeng Jonggoa. putri lain adalah bernama I Kawateng.

Dialah penguasa [raja] yang mula-mula membuat peraturan, hukum dalam perang. Di masa kepemimpinan Karaeng Tumapakrisi Kallonna ini pulalah nama Daeng Pamatte selaku Tumailalang yang merangkap sebagai Syahbandar, berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari 18 huruf yang disebut Lontara Turiolo [Huruf Makassar Tua].

Dialah penguasa yang menaklukkan Garassiq, Katingang, Parigi, Siang, Sidenreng. Yang menjadikan Sanrabone, Jipang, Galesong, Laba sebagai pengikut. Yang mengambil saqbu katina Bulukumba, Selayar [saqbu kati = bea perang]. Dialah yang menaklukkan Panaikang, Madalloq, Campa [ga]. Membuat perjanjian dengan orang-orang Maros, rakyat Polombangkeng, rakyat Bone.

Penguasa ini dipuji sebagai seorang yang memiliki sifat yang sangat istimewa; sangat cerdas [panrita dudu], sebagai penguasa baik dan adil. Gelarannya-ri juru pakkaraengna disebut I Kare Mannguntungi. Dialah yang membentuk komunitas [kampung] Bontomanaiq. Dia juga disebut Gallarrang Loaya.

Dikatakan, pada masanya, padi tumbuh subur, pun dengan tanaman lainnya [memberikan hasil yang baik]. Ikan yang banyak. Pada masa pemerintahannya ini pulalah orang Jawa yang bernama I Nagalasi datang dan berperang di Pammolikang. Selama tiga puluh enam tahun ia memerintah.

Pada masa Karaeng Tumapakrisi Kallonna inilah Goa dan Tallo berperang. Dimana Tallo didukung oleh rakyat Polombangkeng disebelah selatannya, dan oleh rakyat Maros disisi lainnya. Adapun penguasa [Karaeng] Tallo pada saat itu adalah Tunipasuruq. Nama pribadinya semoga saya tidak terkutuk, I Mangayoaberang. Yang memerintah di Maros disebut Patanna Langkana. Nama-nya setelah meninggal disebut Tumatinroa ri Buluqduaya. Nama pribadinya semoga saya tidak terkutuk, I Mappasomba. Nama kerajaan-Nya [Paddaenganna] I Daeng Nguraga. Dan yang memerintah di Bajeng adalah anak dari Karaeng Loe disebut I Pasairi. Dia adalah kakak I Daeng Masarro. Bersaudara dengan orang-orang [penguasa] yang memerintah di Sanrabone, di Lengkeseq, di Katingan, di Jamarang, di Jipang, di Mandalleq. Mereka tujuh bersaudara; semua memiliki payung kerajaan. Sedangkan Karaeng ini [Karaeng Tumapaqrisiq Kallonna] didukung oleh Gaukang Tallua. Karaeng ri Lakiung dengan Garudaya, rakyat Mangasa, Tomboloq, Saumata, dan Sudiang, di daerah Baroqbosoqlah mereka menyiapkan senjata mereka, berhadapan [berperang melawan] dengan rakyat Polombangkeng. Karaeng sendiri [Tumapakrisi Kallonna] dengan Sulengkaya, bersiap di Rappocini dengan orang-orang dari Sudiang, rakyat Manuju, rakyat Boriqsallo, berhadapan [berperang melawan] dengan rakyat Tallo dengan I Daeng Masarro sendiri yang berdiri langsung terhadap [para Karaeng]. Karaeng ri Data dengan Cakkuridia, Tamamangung serta Paccelekang, Pattalassang, Bontomanaiq, berhadapan dengan [berperang melawan] orang-orang Maros. Setelah pertempuran berkobar dikalahkanlah rakyat Talloq, rakyat Maros, rakyat Polombangkeng. Hingga ketiganya terusir ke kampung halaman mereka masing-masing. Orang-orang [rakyat] Tallo sendiri melarikan diri sampai jauh ke dalam kampung [daerah] Tallo. Hingga kemudian undangan dikirim ke Karaeng Tumapakrisi Kallonna. Untuk Ia dipersilahkan masuk ke Tallo. Selama tujuh [malam] diadakan pesta untuk menghormati beliau. Dari sinilah lahir perjanjian antara Gowa dan Tallo. Ini pulalah yang menjadikan kedua kerajaan ini menjadi satu dengan kesepakatan yang disebut “Rua Karaeng na Se’re Ata” (Dua Raja Satu Rakyat). Yang mana mereka semua bersumpah sumpah [Karaeng Gowa dan Karaeng Tallo], juga semua gallarrang yang dilaksanakan di baruga [balai] kerajaan : “Iami anjo nasitalli’mo karaenga ri Gowa siagang karaenga ri Tallo, gallaranga iangaseng ribaruga nikelua. Ia-iannamo tau ampasiewai Gowa-Tallo, iamo nacalla rewata. (Barang siapa yang mengadu domba antara Gowa dan Tallo, dia akan dikutuk dewata)”.

Dikatakan bahwa dalam suasana perang, Dia membuat kesepakatan dengan Datu Luwu Matinroa ri Wajo. Juga dengan Karaenga ri Salumekko yang disebut Magajaya. Sanrabone, Jipang, Galesong, Agangnionjoq, Kawu, Pakombong dan menjadikannya sebagai pengikut Gowa. Dia juga yang pertama mengundang orang Portugis datang ke Gowa [Makassar]. Pada tahun yang sama Dia menaklukkan Garassiq, Malaka juga ditaklukkan oleh Portugis. Dikatakan pula selama Karaeng ini memerintah tidak ada pencuri di negeri ini.

Nama kerajaan-Nya [Paddaengangna] dari Karaeng ini adalah I Daeng Matanre. Nama pribadi-Nya tidak ada yang tahu, di antara semua orang yang ditanya tidak ada yang tahu.

Karaeng Tumapakrisi Kallonna, meninggal karena sakit. Setelah Karaeng Tumapakrisi Kallonna wafat, Dia digantikan oleh anaknya yang bernama Tunipallangga sebagai penguasa [raja] Gowa X. Nama pribadinya semoga saya tidak terkutuk, I Mariogauq. Nama kerajaan-Nya [Paddaenganna] I Daeng Bonto, nama Pakkaraenganna sebelum ia menjadi penguasa adalah Karaeng Lakiyung.** Wassalam, Semoga manfaat…

Sumber : Lontara Gowa
Posted by Adi Lagaruda at 17:36
Reactions:
0 comments Links to this post Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Labels: Tokoh
Minggu, 17 April 2011
Kekalahan Bone di Pasempek (Beta ri Pasempek)
Dalam tahun 1640 hanyalah pembesar-pembesar kerajaan Bone dengan pengikut-pengikutnya lari dari Bone ke Goa, sebab takut kemurkaan raja Bone La Maddarammeng, yang digelar Opunna Pakkokongnge.

La Maddarammeng tidak disukai oleh rakyatnya berhubung karena dia memaksa rakyatnya untuk melaksanakan ajaran Islam secara murni. Beberapa kebiasaan-kebiasaan lama yang masih dilakukan rakyatnya, disuruh hapusnya. Dialah juga yang memerintahkan untuk memerdekakan semua hamba sahaya dalam kerajaannya.

Tindakan itu ditentang oleh bangsawang-bangsawang Bone, terutama oleh ibunya sendiri, We Tenrisoloreng Makkalaure Datu Pattiro. Bahkan ibundanya inilah yang menjadi penentang utamanya. Oleh sebab itu maka disuruh serangnya Pattiro, menyebabkan ibundanya beserta beberapa pembesar lainnya lari ke Goa minta perlindungan.

Sultan Muhammmad Said memperingatkan La Maddarammeng agar memperbaiki sikapnya terhadap rakyatnya dan berusaha mendamaikan raja Bone dengan pembesar-pembesar yang lari itu, tetapi karena tidak berhasil, akhirnya Goa memerangi Bone.

Pada mulanya Wajo (sebagai sekutu Goa) yang disuruh menyerang Bone dari sebelah utara. Setelah bertempur selama 2 bulan lamanya, maka Arung Matowa Wajo La Isigajang to Bunek gugur dalam pertempuran. Maka tibalah bantuan Goa dan Sidenreng menyerang Bone.

Dinyatakan bahwa pada tanggal 8 Oktober 1643 raja Goa Sultan Muhammad Said sendiri berangkat ke Agangnionjok (Tanete) untuk mengadakan peperangan dengan Bone. Jam 15.00 raja tiba di Pancana dengan 125 buah perahu beserta tentaranya. Atas bantuan orang Sidenreng yang datang memperkuat tentara Goa dan Wajo yang sedang bertempur, Bone dapat dikalahkan dan rajanya lari ke Larompong (Luwu)*1). Tetapi lasykar Goa mengejar terus sampai La Maddarammeng tertawan di Cimpu. Saudara La Maddarammeng, La Tenriaji to Senrima dapat meloloskan diri dan kembali ke Bone.

Orang Bone dengan sendirinya takluk di bawak kekuasaan Makassar dengan suatu perjanjian bahwa mereka itu tetap memegang hak-hak istimewa yang telah diberikan raja Goa kepadanya.

Sebagai pengawas maka raja Goa menempatkan Karaeng Sumanna sebagai “Jannang”*2) sedangkan Tobalang, Arung Tanete sebagai Kadi. *3) Tetapi berhubung oleh karena Karaeng Sumanna merasa kurang mampu untuk menduduki jabatan “Jannang” itu, maka atas usul Karaeng Sumanna dan disetujui oleh Sultan Muhammad Said akhirnya Arung Tobalang yang menjadi “Jannang” di Bone.

Pada tanggal 19 November 1643 raja Goa Sultan Muhammad Said kembali ke Goa setelah mengalahkan kerajaan Bone dalam peperangan di Pare-Pare, sedangkan La Maddarammeng barulah pada tanggal 23 Juli 1644 berada di Makassar.

Saudara La Maddarammeng yang bernama La Tenriaji to Senrima beserta sepupunya, Daeng Pabilla dan Arung Kung, mengadakan perlawanan terhadap Goa. Atas bantuan Raja Soppeng maka dalam tahun 1646 La Tenriaji to Senrima beserta sepupunya telah dapat mengumpulkan suatu kekuatan yang berjumlah 70.000 orang (rakyat Bone dan Soppeng). Oleh sebab itu maka pada tanggal 18 April 1646 raja Goa berlayarlah ke Bone untuk memadamkan perlawanan itu.

Sesudah perlawanan itu dikalahkan dan pemimpin-pemimpinnya itu ditangkap, maka pada tanggal 25 Mei 1646 raja Goa Sultan Muhammad Said kembalilah dari Bone. Peperangan inilah yang dinamai dalam bahasa Bugis “Beta ri Pasempek” (Kekalahan di Pasempek)

Segala hak-hak dan kehormatan-kehormatan yang pada mulanya di biarkan dahulu kepada Bone dicabut dan seluruh negeri termasuk juga Soppeng dianggap sebagai daerah Goa (1646).*4) Sedangkan La Maddarammeng pada tanggal 19 Juni 1646 diasingkan ke Siang (Pangkaje’ne Kepulaan).

Setelah peperangan di Pasempek berakhir, maka raja Goa Sultan Muhammad Said mengadakan pertemuan dengan sekutu-sekutunya, yaitu, dengan Arung Matoa Wajo La Makkaraka Tapatemoui Matinroe ri Pangaranna dan Datu Luwu La Palisbunga Daeng Mattuju Sultan Ahmad Nazaruddin Matinroe ri Goa. Dalam pertemuan itu ditetapkan bahwa orang-orang Bone yang ditawan karena peperangan itu harus dibagi sama banyak diantara ketiga Raja itu. *5)

Diantara tawanan-tawanan pemberontak Bone itu, maka terdapat seorang Bangsawan muda yang bernama La Tenritatta Toaputunru Arung Palakka, yang dilahirkan di Lamatta (Soppeng) pada tanggal 15 September 1634 *6), ibunya bernama We Tenrisuik Datu Mario ri Wawo putri raja Bone La Tenrirua Sultan Adam yang mangkat di Bantaeng. We Tenrisuik digelar juga Arung Palakka Pattiro karena meratui daerah Palakka wilayah Bone.**

Oleh : H.D. Mangemba

“Makalah ini telah diterbitkan disini secara langsung tanpa sembarang perubahan kepada bahasanya yang asal kecuali bilangan nombor nota kaki-Pengarang”

Catatan kaki :
*1) B. Erkelens, op.cit.h.85
*2) “jannang” berarti pengawas, komisaris (kerajaan Goa di Bone)
*3) G.J. Wolhoff dkk, Sejarah Goa, Jajasan Kebudayaan Sulawesi Selatan & Tenggara, Makassar, 1963,h.71.
*4) Menurut B. Erkelens, op.cit.h.85, ialah tahun 1643. Tetapi menurut buku harian Kerajaan Goa dan Tallo ialah tahun 1646 (A. Ligtvoet, Transcriptie van het Dagboek der Vorsten van Gowa en Tallo met vertaling en aanteekeningen, B.K.I, 1880, h.107).
*5) Abd. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa, Jajasan Kebudayaan Sulawesi Selatan & Tenggara, Makassar, 1971,h.35.
*6) A. Ligtvoet, op.cit.h.95.
Posted by Adi Lagaruda at 12:29
Reactions:
0 comments Links to this post Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Labels: Sejarah
Minggu, 27 Februari 2011
Tunipallangga Ulaweng Sang Penakluk
Nama pribadinya, adalah I Manriwagau, nama Paddaenganna adalah Daeng Bonto, nama Pakkaraenganna sebelum ia menjadi penguasa adalah Karaeng Lakiyung, Nama-Nya setelah meninggal disebut Tunipallangga Ulaweng [Raja Goa ke-X, memerintah 1547-1565]. Karaeng Tunipallangga Ulaweng dikenang karena sejumlah pencapaiannya. Dia adalah putera Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Dia mewarisi sifat ayahnya : penyusun siasat perang yang cerdas, seorang pekerja keras, dan sangat berani.

Dalam menjalankan pemerintahan di Goa, Dia di bantu Mangkubuminya Karaeng Tallo [I Mappatakangtana Daeng Paduduq], melanjutkan pembangunan dan perluasan wilayah kekuasaan Goa yang telah dirintis sebelumnya oleh ayahandanya. Dengan menetapkan program politik ekspansi untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan tetangga. Untuk itu beliau memperkuat benteng-benteng pertahanan kerajaan dengan menjadikan Benteng Somba Opu sebagai bentang utama. Benteng-benteng lainnya diperkuat dengan pagar keliling [Benteng Barombong dan Benteng anak Goa].

Karaeng Tunipallangga Ulaweng, ialah Raja Goa yang menaklukkan hampir seluruh kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan dan beberapa kerajaan yang berada di Sulawesi Tengah sekarang ini. Ialah Raja Goa yang pertama berperang melawan orang Bugis di Bampangang. Menaklukkan Bajeng, Polombangkeng, Lamuru, Masade, Walanaya. Menaklukkan penguasa yang bernama I Lapasari, penguasa Soppeng yang bernama Puang ri Jammaq, menaklukkan penguasa wanita (datu bainea) bernama I Daengku beserta kerajaan-kerajaan pengikut-nya. Menaklukkan Samanggi, Cenrana, Bengo, Salomekko, Cina, Kacu, Patuku, Kalubimbing, Bulo-Bulo, Kajang, Lamatti, Saumata, Camba, Bulukumba, Ujung Loe, Pannyikkokang, Pationgi, Gantarang, Wero, Selayar, Bira, Turiwawo Atas, Wajo, Otting Buluq-Cenrana, Suppaq, Sawitto, Letang, Duri, Panaikang, Totoli, Kaili.

“Bersama sekutunya [Maros] menaklukkan penguasa wanita (datu bainea) bernama I Daengku dan pengikut-nya. Menaklukkan Cenrana, Salomekko, Cina, Kacu, Patuku, Kalubimbing, Bulo-Bulo, Kajang, dan Lamatti. Menaklukkan Samanggi, Cenrana, Bengo, Saumata dan Camba dan membuatnya menjadi pengikut Goa. Bersama sekutunya [Luwu] menaklukkan Wajo. Bersama sekutunya [Sidenreng] menaklukkan Otting Buluq-Cenrana, Suppaq, Sawitto, Letang, Duri, Panaikang dan membuatnya menjadi pengikut Goa”.

Bebeberapa pencapaian lainnya seperti : Menciptakan jabatan Tumakkajananngang [Panglima Perang Kerajaan]. Menciptakan jabatan Tumailalang [Komunikator] untuk menangani administrasi internal. Menciptakan system resmi ukuran berat dan pengukuran. Pertama kali memasang meriam yang diletakan di benteng-benteng besar. Pemerintah pertama ketika orang Makassar mulai membuat peluru, mencampur logam dan membuat batu bara. Pertama kali membuat dinding batu bata mengelilingi pemukiman Goa dan Somba Opu. Penguasa pertama yang didatangi oleh orang melayu [Anakoda Bonang]. Yang pertama membuat perisai besar menjadi kecil, memendekkan gagang tombak dan membuat peluru Palembang. Penguasa pertama yang meminta tenaga lebih dari rakyatnya.

Karaeng Tunipallagga Ulaweng memiliki istri sebanyak 3 [tiga] orang. Satu istrinya bernama I Daeng Ningai, dikaruniai empat orang anak, dua perempuan. Satu lagi istrinya bernama Karaenga ri Biliq Tangngaya anak dari Karaeng Loe ri Katingang anak Karaeng Tuanaq Sappuq, dikaruniai seorang anak perempuan. Satu lagi istrinya bernama Datuq ri Bali [Karaenga ri Suppaq], tidak mempunyai anak.

Ketika ia memimpin Goa melawan Bone, sakit yang diderita-nya bertambah parah [didalam benteng di Papolong]. Oleh sebab itu Dia terpaksa di bawa pulang ke Goa. Hanya berselang 48 hari lamanya di Goa, Dia wafat akibat penyakitnya itu. Oleh sebab itu disebut Karaeng Tunipallangga Ulaweng.

Setelah Karaeng Tunipallangga Ulaweng wafat, Dia digantikan oleh saudaranya yang bernama I Tajibarani Daeng Marompa, Karaeng Data, Tunibatta sebagai Somba Gowa XI.** Wassalam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: