Pengakuan Dosa yang Tak Pernah Terucap

Pernah nggak merasa dekatttttt..banget dengan seseorang. Bisa orang tua, saudara, sepupu, sahabat, bahkan teman di dunia maya. Yang dekat banget sama kita, pokoknya segala-gala diceritain sama mereka tanpa rasa malu dan takut. Mereka menjadi bagian dari hidup kalian. Pengisi hari-hari dalam suka dan duka.Penuh tawa, canda, juga air mata.

Dan karena kondisi tertentu, baik yang disengaja ataupun tidak akhirnya kalian menjadi jauh dengan mereka. Sangat jauh, bahkan seperti tidak mengenal. Merasa asing dan aneh, tapi juga merasa kehilangan. Ada kondisi yang membatasi, hingga apa yang kalian rasa tak pernah terungkap dan mereka tak pernah mengetahuinya.

Aku pernah mempunyai sahabat, teman masa remaja. Kita lumayan dekat dan akrab. Aku mengenalnya, ketika aku liburan dan tinggal beberapa bulan di rumah nenekku. Dia anak tetangga nenekku. Aku mengenalnya pertama kali, di bulan suci Ramadhan tahun 1993. Kenal tanpa sengaja ketika dia mencuri-curi pandang padaku saat sholat tarawih di masjid dekat rumah nenekku. Lucuuu deh, ada-ada saja tingkah dia untuk mencari perhatianku. Katanya, aku sombong dan angkuh. Jarang banget tersenyum, sok acuh, dan jaim. Dia mahasiswa yang sedang liburan dan pulang ke rumah orang tuanya. Keluarganya cukup kaya dan terpandang di desa nenekku. Pokoknya dia terkenal, banyak cewek-cewek yang suka sama dia. Makanya dia penasaran banget kalau sampe nggak bisa kenalan dan mengajak aku kencan. Hahaha.

Singkat cerita, akhirnya aku berteman dengannya. Hampir setiap habis sholat tarawih dan sholat subuh, kita ngobrol dan jalan bareng teman-teman. Kelompok bermain kita lumayan banyak, sekitar 12-15 orang. Seruuuu banget. Kita sangat akrab, berbagai kegiatan kita lakukan bersama-sama dalam mengisi waktu luang menunggu adzan magrib. Paling sering, kita pergi ke sungai dekat rumah nenekku, dan kita memancing disana. Teman-teman laki-lakiku, sering kali mandi dan berenang di sana. Mereka memanjat pohon besar disekitar sungai (aduh, aku lupa nama pohonnya. Ingas ya? Pokoknya getahnya gatel kalau kena tubuh kita) dan mereka meloncat ke dalam air. Saling ciprat-cipratan air dan teriak-teriak. Kalau dipikir-pikir, lucu juga sih..soalnya kita dulu bukan kanak-kanak lagi. Hampir semua sudah kuliah di luar kota dan sedang liburan ke rumah orang tuanya. Pulang mudik karenakan akan menghadapi hari raya lebaran.

Terkadang, kita juga mengambil jamur-jamur merang di sawah yang tumbuh pada sisa-sisa pembakaran tangkai padi sesudah panen. Atau, kami secara bergiliran memetik buah dirumah teman masing-masing dan dibagikan secara rata bersama-sama. Buah-buahannya adalah rambutan, mangga, sawo, jambu, dan pepaya. Hampir semua penduduk disana mempunyai pohon buah-buahan di halaman rumahnya.

Oya, yang paling mengesankan adalah ketika kita selalu berolah raga bersama-sama setelah sholat subuh. Tepatnya sih jalan-jalan. Kita semua naik sepeda, ada yang sendiri, ada juga yang berboncengan. Aku sih lebih seneng dibonceng, kerena malas mengayuh sepedanya..haha takut capek dan haus. Nah, temanku itulah yang seringggg kali membocengku naik sepeda. Melintasi pematang sawah, kebut-kebutan, dan berlomba-lomba dengan teman-teman. Kebayang ramenya ya, padahal hari masih gelap, dingin, dan sepi.

Hingga bulan puasa dan lebaran berakhir, kami masih dekat untuk beberapa minggu. Sampai akhirnya mereka harus kembali ke kampus untuk belajar. Dan aku harus sibuk dengan bimbingan belajarku dalam menempuh UMPTN. Hanya waktu-waktu liburan sekolah, kami dapat bertemu dan bermain kembali. Banyak sekali kenangan indah bersama mereka.

Pada suatu hari, sahabatku itu mengajak bertemu. Sebut saja namanya Yoga. Kita berjalan-jalan ke taman kota menggunakan motor. Kata Yoga, tau nggak alasan kenapa dia nggak mau bawa mobil? Karena katanya lebih romantis kalau naik motor, aku jadi bisa pegangan dipinggangnya. Hahaha, padahal karena aku takut jatuh. Yoga selalu memanggilku dengan Dik Ayu. Menurutnya, meskipun aku tomboy namun terlihat ayu dan imut. Pernah loh dia kaget setengah mati pas lihat aku pakai rok di hari raya..katanya aku begitu anggun. Mulutnya sampai menggaga lebar..untung nggak ada lalat yang masuk🙂

Persahabatan kami agak menjauh ketika Yoga mulai rajin menulis surat cinta untukku. Surat itu sering dititipkan melalui supirnya untukku. Yoga tak berani mengirimkannya sendiri untukku, alasannya malu. Suratnya selalu berisi pujian dan puisi indah. Sungguh, aku jadi sulit bersikap. Aku mengabaikan surat-surat itu dan tak pernah membalasnya. Takut menyakiti hatinya. Aku hanya menganggap Yoga sebagai teman biasaku saja. Namun aku salah.. ternyata diamku, dianggap Yoga sebagai anggukan berarti setuju. Yoga bercerita pada teman-temanku bahwa aku kekasihnya dan aku marah padanya. Sangat marah, karena sesungguhnya aku hanya menganggap Yoga sebagai kakak saja. Perlahan aku mulai menghindar.

Sampai setahun kemudian, dengan banyak kejadian yang tak bisa aku jelaskan, aku dan Yoga mulai saling menjauh dan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Yoga kembali sibuk dengan kuliahnya dan aku sibuk bekerja. Akupun telah memiliki kekasih hati. Pacar pertamaku. Aku dan Yoga jarang sekali bertemu. Kalaupun bertemu, semuanya sudah tak pernah sama lagi. Kita hanya saling tersenyum dan menatap saja.

Setelah puluhan tahun berpisah, aku dan Yoga tanpa sengaja bertemu di situs jejaring sosial Facebook. Yoga menanyakan akun Facebookku pada adikku. Komunikasi kami terjalin kembali. Seperti biasa, Yoga selalu memposisikan dirinya sebagai kakak bagiku. Selalu saja ngomel-ngomel kalau lihat update statusku yang banyak curhatnya dan melihat narsisnya foto-fotoku. Yoga juga selalu mengomentari catatan-catatan facebookku, melalui email. Tak pernah berkesan menggurui, hanya obrolan ringan sebagai sahabat. Yoga bekerja sebagai pimpinan cabang sebuah surat kabar dan bekerja pada stasiun TV Daerah. Yoga sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Istrinya seorang wanita cantik dan bekerja .

Petemananku dengan Yoga sangat-sangat wajar. Komunikasi yang terjalin hanya sebatas tegur sapa saja melalui email. Sampai suatu hari, aku mendapatkan sebuah email dan telepon dari istri Yoga, kusambut dengan ramah dan senang hati. Aku bercerita padanya bahwa aku sahabat Yoga di masa lalu. Tanpa kuduga, istrinya bercerita bahwa ia “banyak” mengetahui tentang aku dari orang tua dan kakak-kakaknya Yoga. Istrinya bercerita, bahwa Yoga begitu jatuh cinta dan mengagumiku. Aku adalah cinta pertamanya. Istrinya meminta aku untuk pergi diam-diam dari kehidupan Yoga. Mengignore Facebooknya dan jangan pernah membalas email dan smsnya lagi. Istrinya merasa cemburu dan tak nyaman dengan keberadaanku. Istrinya meminta kepadaku dengan menangis. Wanita mana yang tak tersentuh bila kita menjadi diposisinya. Merasa terancam, takut hati suaminya akan berpaling darinya. Istrinya meminta aku jangan pernah mengatakan hal ini pada Yoga, karena istrinya takut Yoga menjadi marah dan aku menyetujui permintaannya.

Berkali-kali Yoga mengadd Facebookku, dan berkali-kali pula invitenya aku ignore. Berkali-kali, Yoga mengirim email dan meng smsku, namun tak pernah lagi kubalas. Banyak kata dan rangkaian puisi meminta penjelasan padaku, namun kuabaikan dengan terpaksa. Sebenarnya aku juga sedih. Tapi demi janjiku pada istrinya, aku tak memperdulikannya. Dan Yoga tak pernah tau dengan alasanku itu.

Pagi ini, tiba-tiba aku ingat padanya dan merasa bersalah. Ingin sekali bisa meminta maaf dan menjelaskan semuanya padanya. Tak pernah bermaksud mengabaikan atau mempermainkan perasaannya. Aku hanya tak ingin merusak rumah tangganya dan membuatnya masih berhayal indahnya tentang aku. Tak pernah ada keberanian untuk menjelaskan padanya. Pasti Yoga benci dan marah kepadaku. Kuterima semua prasangkanya dalam diam. Semua untuk kebaikan rumahtangga kamu, Yog. Suatu saat, entah kapan..aku akan menjelaskan semua ini padamu. Pengen juga bermain ke rumahmu, kenal dengan istri dan anak-anakmu. Bisa menyapa mereka dengan hangat. Aku, wanita yang istrimu cemburui..meskipun salah alamat. Tapi itu tandanya, kamu mendapatkan wanita yang tepat. Wanita yang mencintai kamu dan takut kehilanganmu. Kamu harus bersyukur..kamu beruntung, Yog. Semoga rumahtangga tangga kamu bahagia dan langgeng sampai akhir hayat.

Dari sahabatmu, pengakuan dosa atau rasa bersalah yang tak pernah terucap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: