Hadits Dhaif dan Maudhu’ Seputar Ramadhan (Bag.2 Pengertian)

Hadits dha’if (ضعيف) adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih atau hasan. [Lihat Muqaddimah Ibnu Shalah (hal. 41), Ikhtishar Ulumil Hadits (hal. 44), Taudhihul Afkar (I/247), Musthalahul Hadits (hal. 15), Syarh Mandzumah Al-Baiquniyyah (hal. 45), dan Tadribur Rawi (I/195)]

Hadits maudhu’ (موضوع) adalah hadits yang dibuat-buat dan didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Lihat Muqaddimah Ibnu Shalah (hal. 95), Lamahat ‘an Ushulil Hadits (hal. 305), Musthalahul Hadits (hal. 35), Syarh Mandzumah Al-Baiquniyyah (hal. 45), dan Tadribur Rawi (I/323)]

Hadis maudhu’ (palsu) bisa diketahui ketika dalam sanadnya terdapat salah satu perawi yang pernah dikenal telah berdusta dalam menyampaikan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada jalur lain, selain dari orang pendusta ini. [Muqadimah fi Musthilah Hadist karya al-Khusyu’i, hlm. 439]

Hal-Hal Yang Menyebabkan Hadits Menjadi Dha’if

Suatu hadits menjadi dha’if (lemah) disebabkan oleh dua hal, yaitu:

Sebab pertama, terputusnya atau gugurnya sanad.

Sanad (سند) adalah jalur untuk sampai kepada matan, atau rangkaian perawi yang menghubungkan kepada matan hadits. [Lihat Taisir Musthalahul Hadits (hal. 18), Musthalahul Hadits (hal. 58), dan Tadribur Rawi (I/27)]

Ada beberapa jenis hadits dha’if yang disebabkan oleh terputusnya sanad, yaitu:
1. Hadits mu’allaq (المعلق), yaitu hadits yang terputus dari sanad awalnya sesudah mukharrij (imam pencatat hadits).
2. Hadits mu’dhal (المعضل), yaitu hadits yang dalam sanadnya terputus dua orang rawi atau lebih, secara berturut-turut.
3. Hadits munqathi’ (المنقطع), yaitu hadits yang dalam sanadnya gugur seorang rawi sebelum sahabat, atau gugur dua orang rawi di dua tempat dengan syarat tidak berturut-turut.
4. Hadits mudallas (المدلّس), yaitu hadits yang sanadnya disembunyikan dan disangkakan pada derajat yang lebih tinggi daripada derajat yang sebenarnya. Orang yang melakukannya disebut mudallis dan perbuatannya disebut tadlis.

Tadlis terbagi menjadi dua, yaitu:

a.Tadlis isnad(تـدليس الإسناد), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi dari seorang rawi yang sezaman dan bertemu dengannya, akan tetapi dia tidak mendengar hadits dari rawi tersebut. Kemudian dia membuat keraguan dengan memakai lafazh yang seolah-olah ia mendengar darinya.

Tadlis isnad terbagi dalam beberapa macam, yaitu:

Pertama, Tadlis taswiyah (تدليس التسوية), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi mudallis yang mendengar hadits itu dari syaikh atau gurunya yang tsiqah (terpercaya). Rawi yang tsiqah ini menerima hadits dari rawi yang dha‘îf (lemah), kemudian rawi yang lemah ini meriwayatkan hadits tersebut dari rawi lain yang tsiqah. Lalu untuk membaguskan sanad hadits tersebut, si mudallis menggugurkan rawi yang lemah yang berada diantara dua rawi yang tsiqah dengan menggunakan lafazh yang tidak tegas, seolah-olah rawi tsiqah yang pertama menerima hadits itu dari rawi tsiqah yang kedua. Padahal diantara keduanya ada seorang rawi yang dha’if, namun namanya dihilangkan dari urutan sanad.

Kedua, Tadlis ’athaf (تدليس العطف), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi mudallis yang dia mendengar hadîts itu dari syaikh atau gurunya, kemudian ia iringi dengan rawi yang lain dengan menggunakan huruf ’athaf (yakni huruf wawu: و). Namun, dia tidak mendengar hadits itu dari rawi kedua yang dia ‘athaf-kan.

Ketiga, Tadlis sukut (تدليس السّكوت), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang mudallis dengan menggunakan lafazh yang tegas. Kemudian dia diam dengan niat memutuskan pembicaraan, setelah itu dia berkata, ”Si Fulan”.

b. Tadlis Syuyukh (تدليس الشيوخ), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang Mudallis, dimana dia mensifatkan syaikhnya dengan suatu sifat yang tidak dikenal, berupa nama, kunyah, nasab, atau laqab atau gelaran dan lain-lain.

5. Hadits Mursal (المرسل), yaitu hadits yang disandarkan oleh tabi‘in secara langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan nama sahabat yang meriwayatkannya.

Selain Hadits Mursal Tabi’in, Hadits Mursal juga terbagi menjadi:

a. Mursal Khafi(المرسل الخفي), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi dari seorang rawi yang semasa atau sezaman dengannya, akan tetapi dia tidak pernah bertemu dengannya.
b. Mursal Shahabi(مرسل الصّحابي), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang dia sendiri tidak mendengar secara langsung atau melihat kejadiannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dengan perantaraan sahabat lain, baik karena ia masih sangat kecil, atau karena masuk Islam belakangan, atau karena sebab lain.

Sebab kedua, tercelanya (cacat) seorang atau beberapa rawi.

Rawi (الراوي) adalah orang yang meriwayatkan hadits.
Hadits dha‘îf yang disebabkan karena cacat dan tercelanya rawi ada sepuluh macam. Lima macam berkaitan dengan ke-‘adalah-an rawinya dan lima macam lagi berkaitan dengan ke-dhabith-an rawinya.

Al-‘Adalah (العدالة) yaitu orang muslim, berakal, dewasa, terbebas dari sebab-sebab kefasikan dan rusaknya muru’ah (wibawa). [Lihat Syarh Nukhbatul Fikr (hal. 28-29), Musthalahul Hadits (hal. 17), dan Tadribur Rawi (I/61)]
Adh-Dhabth (الضبط) yaitu seorang perawi yang kuat hafalannya ketika meriwayatkan hadits dengan hafalan yang sempurna dan tanpa keraguan. [Lihat Syarh Nukhbatul Fikr (hal. 28-29), Musthalahul Hadits (hal. 17), dan Tadribur Rawi (I/61)]

1. Sebab-sebab hadits dha’if yang berkaitan dengan ’adalah-nya seorang rawi, yaitu:

a. Karena dusta dan bohongnya rawi atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sengaja. Hadits yang diriwayatkannya disebut hadits maudhu’.
b. Karena rawi tersebut dituduh telah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits yang diriwayatkannya disebut hadits matruk.
c. Karena rawi tersebut sering melakukan kesalahan atau buruk kesalahannya dalam meriwayatkan hadits.
d. Karena rawi tersebut sering lalai dalam meriwayatkan hadits, yakni tidak teguh atau kuat di dalam meriwayatkannya.
e. Karena rawi tersebut adalah seorang yang fasik. Hadits yang diriwayatkan oleh rawi dari poin C sampai poin E, haditsnya disebut hadits munkar.

2. Sebab-sebab hadits dha’if yang berkaitan dengan dhabith-nya seorang rawi, yaitu:

a. Karena rawi tersebut sering waham (ragu-ragu). Hadits yang diriwayatkannya disebut hadits ma’lul.
b. Karena riwayat dari yang tsiqah, menyalahi riwayat dari rawi yang lebih tsiqah. Hadits yang diriwayatkannya disebut hadits syadz.
c. Karena rawi tersebut seorang yang majhul (tidak dikenal) atau mubham (samar-samar).
d. Karena rawi tersebut seorang ahli bid‘ah.
e. Karena rawi tersebut buruk hafalannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: